Ketika terjadi invasi Jepang ke Korea yang disebut Imjin Weoran,
pemerintah daerah Jinju memperbaiki dinding batu istana yang terbuat
dari tanah. Dalam pekerjaan perbaikan itu seluruh warga penduduknya,
baik rakyat jelata maupun biksu mengumpulkan batu-batu dan membentengi
istananya. Suatu hari seorang biksu bernama Myeongseok melewati depan
desa untuk pulang ke kuilmua setelah pekerjaan gotong royong tersebut
selesai. Tiba-tiba dia melihat dua buah batu yang sedang menggelinding.
Biksu Myeongseok merasa aneh dan bertanya sambil komat-komit sendirian,
"Hai Batu-batu! hendak bergegas-gegas kemana kah kalian?" Batu-batu
segera menjawab bahwa mereka sedang menuju ke tempat pekerjaan
membentengi istana Jinju untuk menjadi batu dinding istana. Setelah
mendengarnya, sang biksu memberitahukan kepadanya bahwa pekerjaan itu
sudah selesai. Batu-batu yang mendengar hal itu kemudian berhenti dan
mulai menangis meraung-raung di tempat mereka berhenti. Biksu Myeongseok
yang menyaksikannya terkagum akan hal tersebut dengan mengatakan bahwa
batu-batu ini sangat suci, kemudian dia menundukkan kepalanya sembilan
kali ke arah kedua buah batu itu.
Sejak saat itu Batu tersebut dinamakan Undol atau Myeongseok dalam
karakter Cina dan lembah yang didatangi batu-batu itu disebut Gubaegol
dan Gubokgol yang bermakna lembah dimana terjadi peristiwa sembilan kali
menundukkan kepala. Dikatakan bahwa batu-batu itu menangis selama tiga
hari pada saat terjadinya peristiwa penting dalam negeri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jangan Lupa Commentnya...