Kamis, 08 Januari 2009

PROFIL: Sepuluh Hal Yang Wajib Diketahui Tentang Liverpool Mengingat semua prestasi yang telah diraih Liverpool hingga saat ini, mengapa suporter The

Bila dilihat dari sisi jumlah piala yang telah dimenangkan, Liverpool dapat dianggap sebagai tim paling sukses di Inggris. Hal itu karena The Reds merupakan juara terbanyak Divisi Satu Inggris selama 18 kali, dan juga di ajang Piala Eropa/Liga Champions selama 5 kali. Sayangnya tim ini belum pernah sekalipun merasakan gelar juara sejak Liga Primer Inggris dimulai.

Tetapi kalau peringkat di klasemen Liga Primer hingga sekarang ini yang menjadi patokannya, maka fans Liverpool dapat menjadi optimis kalau tahun ini akhirnya akan menjadi waktu di mana trofi juara domestik di Inggris akan bermarkas kembali di Anfield.

Sama seperti klub saingannya Manchester United, Liverpool juga sarat dengan sejarah, tragedi, dan prestasi. Sehingga ada masanya sepakbola Inggris identik dengan tim merah dari daerah Merseyside ini.

Selain The Beatles, klub ini menjadi hal lain yang membanggakan bagi kota Liverpool. Tetapi apakah The Beatles mempunyai sepuluh fakta menarik yang menghiasi The Reds? Mari kita simak fakta-fakta tersebut di bawah ini.

10. Sejarah Liverpool sebagai sebuah klub sepakbola berawal pada suatu hari di tahun 1892 saat terjadi perselisihan antara Everton yang menyewa lapangan Anfield dengan John Houlding yang saat itu menjadi pemilik stadion Anfield. Houlding ingin menaikkan biaya sewa dari £100 ke £250 per tahun. Hal itu ditolak Everton dan mereka akhirnya pindah ke stadion baru di Goodison Park. Houlding yang tak mau melihat lapangannya tak terpakai, akhirnya malah memutuskan untuk membentuk sebuah tim sepakbola sendiri yang akan memakai Anfield. Tim baru yang lahir pada 15 Maret 1892 itu akhirnya diberi nama Liverpool Football Club.

9. Liverpool sejak pertama kali terbentuk telah selalu bermarkas di Anfield. Stadion itu sendiri dibangun tahun 1884 dan berada di seberang Stanley Park. Tribun yang paling terkenal di Anfield tentunya adalah The Kop yang dinamakan berdasarkan sebuah bukit di propinsi Kwazulu-Natal, Afrika Selatan bernama Spion Kop. Bukit tersebut menjadi terkenal karena menjadi ajang pertempuran antara Lancashire Regiment yang kebanyakan berasal dari Liverpool dengan kaum Boer di Perang Boer Kedua. Nama The Kop itu diberikan oleh editor olahraga Liverpool Echo Ernest Edwards. Sekarang selain Liverpool, banyak tim sepakbola lain yang menamakan tribun mereka The Kop juga. Antara lain Sheffield United, Leicester City, Coventry City, dan Sheffield Wednesday.

8. Pada awalnya warna seragam Liverpool bukanlah merah seperti sekarang ini, melainkan biru dan putih. Baru sejak 1894, warna merah mulai digunakan sebagai warna seragam dan putih untuk celana. Akhirnya sejak 1964, semua pemain Liverpool mengenakan warna merah dari seragam, celana, dan kaos kaki. Menurut seorang legenda Liverpool Ian St. John dalam otobiografinya, ini terjadi saat manajer saat itu Bill Shankly merasa merah akan memberikan keuntungan psikologis bagi mereka. Shankly makin yakin timnya harus mengenakan warna merah setelah melihat salah satu pemainnya Ronnie Yeats terlihat lebih garang dalam balutan seragam dan celana merah. St. John kemundian mengusulkan kepada Shankly agar kaos kakinya juga berwarna merah.

7. Obor yang berada di logo Liverpool sekarang, ditambahkan untuk mengenang 96 suporter yang tewas saat Bencana Hillsborough. Kemalangan itu terjadi pada 15 April 1989 saat berlangsungnya pertandingan semi-final Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest. Terlalu banyaknya penonton yang hadir membuat bagian tribun yang diperuntukkan bagi fans Liverpool menjadi sangat padat dan mereka pun akhirnya menjadi sangat berdesak-desakan dan tidak bisa keluar karena masih dihalangi oleh pagar kawat yang tinggi. Akibatnya banyak yang mengalami sesak napas dan meninggal. Pertandingan pun dihentikan enam menit setelah dimulai karena banyaknya penonton yang mencoba memanjat pagar untuk menghindari kepadatan itu. Kejadian ini membuat seluruh stadion di Inggris diubah menjadi stadion yang hanya memiliki tempat duduk dan pagar yang memisahkan penonton dengan lapangan dihilangkan.

6. Walaupun Liverpool mempunyai sejarah yang gemilang dengan prestasi mereka di lapangan. Sebagian diantaranya menjadi ternoda karena hooliganisme dari para suporternya. Hal itu menjadi puncaknya pada 29 Mei 1985 ketika terjadinya Bencana Heysel. Heysel menjadi stadion tempat dilangsungkannya final Piala Eropa antara Liverpool melawan Juventus. Satu jam sebelum pertandingan dimulai, sebagian besar kelompok suporter Liverpool menerjang pagar yang memisahkan mereka dengan suporter Juventus dan kemudian menyerang para fans Bianconeri. Hal itu membuat para suporter Juve berlarian mundur untuk menghindari serangan dan terpojok di tembok stadion. Tembok itu akhirnya roboh dan menimpa penonton lain yang berada di bawahnya. Situasi kemudian menjadi kacau balau, dan wasit memutuskan untuk terus melanjutkan pertandingan untuk menghindari kerusuhan lebih lanjut lagi. Peristiwa ini mengakibatkan hilangnya nyawa 39 orang yang kebanyakan merupakan suporter Juventus dan juga skorsing bagi semua klub Inggris untuk tidak mengikuti semua kompetisi Eropa yang diadakan UEFA. Skorsing itu akhirya baru dicabut di musim 1990-91.

5. Ian Callaghan adalah pemain yang tampil paling banyak bagi Liverpool sebanyak 857 kali dalam karir yang berlangsung selama 19 musim di Anfield. Legenda lainnya Ian Rush memegang rekor sebagai pemain yang paling banyak mencetak gol bagi Liverpool dengan 346 gol. Sedangkan Phil Neal merupakan pemain yang paling banyak menjadi juara di Liverpool karena ia telah berhasil memiliki medali pemenang sebanyak 20 buah. Rekor Neal ini juga bertahan bagi Inggris sebelum dipecahkan musim lalu oleh Ryan Giggs dari Manchester United.

4. Kemenangan terbesar yang pernah dicatat oleh Liverpool terjadi pada 1974 saat mereka menghancurkan Stromsgodset IF dengan skor akhir 11-0. Tetapi mereka juga pernah tampil buruk sekali dan mengalami kekalahan terbesar ketika digebuk Birmingham City 1-9 20 tahun sebelum kemenangan terbesar Liverpool terjadi.

3. Lagu kebanggaan yang selalu dinyanyikan para penonton di Anfield dan fans Liverpool di seluruh dunia berjudul You'll Never Walk Alone (YNWA) yang aslinya merupakan sebuah lagu di drama musikal Carousel. Lagu itu dinyanyikan pertama kali di Anfield saat band Gerry and the Pacemakers yang juga berasal dari Liverpool berhasil mencapai nomor satu di jenjang tembang berkat lagu itu. Suporter yang ikut bernyanyi saat lagu-lagu dari jenjang tembang itu diputar tidak berhenti menyanyikan YNWA mesikipun lagu itu sudah tidak masuk daftar lagi. Sejak itulah tradisi menyanyikan lagu tersebut di Anfield lahir. Lagu yang sama juga kemudian diadopsi oleh pendukung klub lain seperti Glasgow Celtic, Hibernian, Feyenoord Rotterdam, dan FC Twente.

2. Kepemilikan Liverpool sekarang berada di tangan dua orang Amerika Serikat Tom Hicks dan George Gillett sejak 6 February 2007 ketika mereka membeli saham terakhir dari ketua sebelumnya David Moores. Hubungan antara Hicks dan Gillett kemudian dilaporkan memburuk sehingga membuat Dubai International Capital tertarik untuk menjadi pemilik Liverpool. Setahun sebelumnya, Liverpool telah mendapatkan izin untuk membangun stadion baru di Stanley Park. Tetapi desain stadion baru itu diubah setelah masuknya Hicks & Gillett dan kini pembangunan stadion menjadi tertunda karena adanya krisis finansial yang melanda global dunia.

1. Kemampuan Liverpool untuk terus bermain dan pantang menyerah sangat terlihat di dalam dua pertandingan final yang mereka hadapi. Saat final Piala FA 2006 melawan West Ham United berlangsung, Liverpool dengan cepat tertinggal 1-2 dalam waktu 32 menit pertama. Skor berubah lagi menjadi 3-2 bagi West Ham hingga akhirnya kapten Steven Gerrard mencetak satu gol di menit perpanjangan waktu terakhir yang merubah skor 3-3 yang harus diakhiri lewat adu penalti. The Reds akhirnya menjadi juara setelah kiper Pepe Reina mampu memblok tendangan penalti 3 pemain West Ham.

Final lainnya terjadi di ajang Liga Champions 2005 melawan AC Milan di Istanbul, Turki. Menjelang turun minum, Liverpool telah kebobolan 0-3. Lalu, The Reds mampu menyamakan kedudukan dengan mencetak tiga gol juga di babak kedua. Hasil seri itu bertahan hingga peluit akhir dan memaksa diadakannya adu penalti lagi. Kali ini pahlawan Liverpool adalah penjaga gawang Jerzy Dudek yang berhasil menepis tendangan penalti terakhir Andriy Shevchenko.

Lampard: Tak Boleh Ada Kesalahan Lagi

Dalam lanjutan Liga Primer Inggris pekan ini akan ada big match antara MU kontra Chelsea. Kali ini Chelsea akan menjadi tamu 'Setan Merah'.

Selain memperebutkan tiga poin, kedua tim juga bersaing untuk menjaga peluang juara musim ini tetap terbuka. Syarat yang harus dipenuhi, tentu saja, adalah kemenangan.

Di sinilah harapan Lampard digantungkan. Untuk mewujudkannya, gelandang Chelsea ini meminta semua pemain tidak memberikan ruang sedikitpun untuk terjadinya kesalahan, terutama dalam momen bola-bola mati.

Penekanan Lampard itu tak terlepas dari pengalaman di masa silam, di mana Chelsea kerap kebobolan lewat prosesi bola mati MU.

"Kami sudah berlatih mengatasi set-pieces minggu ini," buka Lampard seperti dikutip Sky Sports.

"Kesalahan yang terjadi membuat frustasi semua orang karena kami bekerja keras untuk hal ini. Kadangkala kesalahan tersebut terjadi karena kesalahan individu saja, atau gabungan, tapi hal itu kemudian menjadi penting karena kami mendominasi jalannya pertandingan di dua pertandingan terakhir dan akhirnya kalah karena momen set-piece di menit-menit akhir tiap pertandingan."

"Kami tak boleh lagi membiarkan hal itu terjadi saat melawan tim sekaliber Manchester United," tegas Lampard.

PROFIL: Juventus, Klub Italia Tersukses Sejak berdiri, Juventus sukses mempertahankan laju kesuksesan mereka di puncak tertinggi, hingga saat ini.



Profil
Nama: Juventus Football Club S.p.A.
Julukan: La Vecchia Signora (Nyonya Tua), La Fidanzata d'Italia (Kekasih Italia), IL Bianconeri (Putih Hitam), Le Zebre (Si Zebra), Signora Omicidi (wanita Pembunuh)
Berdiri: 1 November 1897
Stadion: Stadio delle Alpi, Turin, Italy (Kapasitas 69,000)
Presiden: Giovanni Cobolli Gigli
Pelatih: Claudio Ranieri

Sejarah

Pertama didirikan oleh murid-murid sekolah Massimo D'Azeglio Lyceum di Turin pada 1897, Juventus memiliki nama awal Sport Club Juventus. Baru dua tahun kemudian berganti nama menjadi Foot-Ball Club Juventus.

Namun di tahun 1906, Juventus sudah mengalami perpecahan. Beberapa staff memutuskan meninggalkan Juventus yang kemudian diikuti oleh presiden Alfredo Dick yang kemudian mendirikan klub baru berjuluk FBC Torino.

Terkait emblem Juventus, pihak klub melakukan beberapa perubahan kecil. Modifikasi terakhir dilakukan pada musim 2004/05 hingga mengalami evolusi seperti yang sekarang ini.

Juventus juga merupakan salah satu klub yang kerap berpindah-pindah stadion. Setelah dua tahun pertama, di mana Juventus bermain di Parco del Valentino dan Parco Cittadella pada tahun 1897 dan 1898, mereka kemudian bermain di Piazza d'Armi Stadium hingga 1908 kecuali tahun 1905 dan 1906, saat mereka berkandang di Corso de Umberto.

Di periode 1909 hingga 1922, Juventus bermarkasa di Corso Sebastopoli Camp dan kemudian hijrah ke Corso Marsiglia Camp hingga 1933. Stadion Benito Mussolini (dulunya bernama stadion Comunale Vittorio Pozzo dan kini berubah menjadi Stadion Olimpico, Turin) menjadi marka Juve berikutnya hingga 1990 sebelum pindah ke Delle Alpi hingga 2005. Juve juga sempat berkandang di Renzo Barbera di Palermo, Dino Manuzzi di Cesena dan Giuseppe Meazza di Milan. Saat ini pihak klub sedang memperbaiki Delle Alpi dan mengembangkan berbagai fasilitas di stadion kebanggaan Bianconeri ini.

Prestasi

Merujuk pada sejarah, Juventus adalah klub Italia tersukses. Total 40 tropi dikoleksi dan Juventus adalah salah satu klub terbaik di dunia, dengan mengumpulkan 11 tropi internasional, yaitu rekor sembilan titel kompetisi UEFA dan dua gelar dunia, yang menjadikan mereka sebagai tim ketiga yang paling sering menang di Eropa dan keenam di dunia untuk kompetisi internasional antarklub.

Juventus juga memegang rekor terbanyak di Serie A Italia sebagai tim peraih juara terbanyak dengan 27 gelar dan memegang rekor juara secara berturut-turut, yaitu dari musim 1930/31 hingga 1934/35. Juventus juga memenangi Coppa Italia sebanyak sembilan kali dan sampai saat ini masih memegang rekor kemenangan secara keseluruhan.

Fakta Menarik Lain:

- Juventus identik dengan warna hitam putih dengan motif zebra. Namun dalam sejarahnya, sebelum tahun 1903, Juve sempat dikenal publik berkostum hitam merah muda. Pergantian warna kostum ini terjadi karena kesalahan pencucian, di mana salah satu ayah dari pemain Juve mencuci kostum pink tersebut hingga pudar.

- Kostum garis-garis hitam putih Juve pertama kalinya diekspor dari Inggris, tepatnya dari Nottingham yang mana supliernya adalah seorang suporter Nottingham County.

- Menurut La Repubblica Juventus adalah klub dengan basis massa pendukung terbanyak di dunia. Diperkirakan ada 170 juta tifosi Juventus yang tersebar di seluruh dunia, di mana 43 juta fans mereka diprediksi berdomisili di Eropa.

- Alessandro Del Piero memegang rekor penampilan terbanyak untuk klub di berbagai kompetisi, sementara Giampiero Boniperti memegang caps terbanyak di kancah domestik Serie A dengan 444 penampilan.

- Juventus adalah satu dari tiga klub Italia yang go public, dengan memiliki tempat di bursa saham Italia. Dua tim lain adalah Lazio dan Roma.

Siapa Pemain Muda Terbaik Serie A Italia?



Berikut daftar bintang masa depan Serie A Italia, tidak diurut berdasarkan pemeringkatan:

Alexandre Pato (AC Milan)
Pemain depan -- 2 September 1989

"Bagiku dia berpotensi menjadi striker terkuat di dunia," puji pelatih AC Milan Carlo Ancelotti usai pertandingan menghadapi Udinese. Pemain Brasil berusia 19 tahun ini memiliki semua kemampuan yang layak ditakuti para pemain belakang -- kecepatan, tenaga, keseimbangan, kemampuan, dan tendangan mematikan. Masih butuh mengasah permainannya, seperti pergerakan dan pengambilan keputusan, potensi Pato tak bisa diabaikan begitu saja.

Mauro Zarate (Lazio)
Pemain depan -- 18 Maret 1987

Fenomena yang hanya bisa dibandingkan dengan sedikit pemain terbaik di dunia seperti Lionel Messi. Zarate cepat, cerdas, kreatif, dan beberapa kali bola seolah-olah menempel di kakinya. Namun, tak jarang Zarate terlalu rakus, dan dia butuh meningkatkan sikap serta kerjasama tim. Apapun, inilah tipe pemain yang akan berprestasi tinggi di tingkat dunia. Real Madrid meminatinya, tapi hanya Lazio yang ada di dalam hati Zarate.

Marek Hamsik (Napoli)
Gelandang -- 27 Juli 1987

Salah satu gelandang muda yang memiliki kemampuan paling lengkap di dunia. Hamsik seperti tak punya kelemahan dalam permainannya. Dibandingkan dengan Frank Lampard, gelandang asal Slowakia ini punya kemampuan membantu serangan, masuk ke kotak penalti lawan, dan mencetak gol. Seperti halnya dengan Lampard, rekor golnya untuk ukuran gelandang sangat subur. Hamsik mengemas sembilan gol musim lalu, dan sudah menjaringkan bola ke gawang lawan tujuh kali musim ini.

Sebastian Giovinco (Juventus)
Gelandang serang -- 26 Januari 1987

Dinobatkan sebagai penerus tahta Alessandro del Piero, Giovinco menjadi salah satu trequarista tradisional Italia, yang mengatur serangan di belakang duet striker. Semut Atom memiliki teknis nyaris sempurna, lincah, dua kaki sama baiknya, umpan akurat, giringan bola, dan baik dalam membaca permainan. Banyak yang beranggapan, dengan tinggi hanya 165 cm, Giovinco akan kesulitan berlaga di Serie A, tapi bakat besar yang dimiliki mengalahkan segalanya. Butuh kematangan bermain untuk meraih prediket yang terbaik.

Fabiano Santacroce (Napoli)
Bek tengah/bek kanan -- 24 Agustus 1986

Santacroce mulai bersinar saat tampil di klub Serie B, Brescia. Santacroce adalah salah satu bek muda terbaik Italia saat ini, dan kemampuannya disebandingkan dengan Fabio Cannavaro dan Alessandro Nesta. Cepat, berani, dan penggasak yang tangguh, hanya butuh waktu bagi Santacroce untuk tampil reguler di timnas Italia. Rumor yang beredar menyebutkan Milan mengincarnya untuk menggantikan Nesta.

Claudio Marchisio (Juventus)
Gelandang -- 19 Januari 1986

Dianggap "Marco Tardelli yang baru", Marchisio mengundang pujian saat turut serta memberikan kemenangan Juventus 4-2 atas Milan di Turin. Pemain berusia 22 tahun ini hanya punya sedikit kelemahan. Marchisio sama baiknya, tampil menyerang maupun bertahan. Bersama Momo Sissoko, pemain yang juga pandai mengumpan ini menjadi duet sepadan di lini tengah Juve.

Paolo de Ceglie (Juventus)
Bek kiri/kiri luar -- 17 September 1986

Seperti halnya Marchisio, De Ceglie juga tampil mengesankan saat melawan Milan. Pemain timnas Italia U-21 ini meneror sektor kanan pertahanan Milan yang dikawal Gianluca Zambrotta. Pemain sayap ini mirip Antonio Cabrini, tapi De Ceglie masih harus meningkatkan kemampuan dalam bertahan. Posisi terbaik De Ceglie adalah kiri luar, posisi yang memungkinkannya mengeksploitasi kecepatan dan kebolehan umpan silangnya.

Cristian Zapata (Udinese)
Bek tengah -- 30 September 1986

Zapata dirundung cedera belakangan ini, tapi jika tampil bugar, hanya tinggal tunggu waktu melihatnya bergabung dengan klub besar. Milan, Juventus, dan Arsenal dilaporkan tertarik terhadap bek tengah yang pandai menjaga lawan, menggasak, menyundul, dan juga cepat serta tenang. Zapata sering menggiring bola dari lini pertahanan untuk mengawali serangan tim.

Mario Balotelli (Inter Milan)
Pemain depan -- 12 Agustus 1990

Remaja ajaib yang memikat perhatian musim lalu saat masih berusia 17 tahun, dan turut berperan penting dalam kesuksesan Inter meraih scudetto. Lahir di Sisilia dari keluarga imigran asal Ghana, Balotelli diharapkan menjadi pemain keturunan Afrika pertama yang menjadi bintang di timnas Italia. Kasus yang menghampiri Balotelli beberapa bulan terakhir menjadi peringatan untuk memperbaiki sikapnya. Demi mengembalikan permainan terbaiknya -- Jose Mourinho benar dengan menyuruhnya berlatih bersama tim cadangan.

Stevan Jovetic (Fiorentina)
Gelandang serang/pemain depan -- 2 November 1989

Fiorentina harus bersaing dengan klub papan atas lainnya saat mendatangkan Jovetic dari Partizan Belgrade musim panas lalu. Pemain berusia 19 tahun ini masih beradaptasi dengan atmosfir Serie A, namun masih mampu menunjukkan bakat yang dipercaya akan membuatnya bersinar suatu hari nanti. Jovetic dapat diandalkan bermain di posisi trequarista, karena pandai menggiring serta mengolah bola. Tunggu saja aksinya lebih banyak lagi di Artemio Franchi dalam beberapa bulan ke depan!

Robert Acquafresca (Cagliari/Inter)
Pemain depan -- 11 September 1987

Acquafresca dimiliki Inter, tapi sedang dipinjamkan ke Cagliari -- tempatnya menjadi kunci kelolosan klub Sardinia itu dari jeratan degradasi musim lalu dengan mencetak 10 gol. Musim ini, Acquafresca sudah mengemas enam gol, dan banyak laporan yang menyebutkan dirinya akan dipanggil kembali ke San Siro bulan ini. Striker jangkung ini pandai memanfaatkan keunggulan fisiknya untuk bola-bola atas, tapi masih kesulitan memanfaatkan peluang berupa bola rendah. Pemain setengah Polandia ini kerap dibandingkan dengan Luca Toni.

Jeremy Menez (AS Roma)
Gelandang serang -- 7 Mei 1987

Sebutan "Zinedine Zidane yang baru" juga disematkan untuknya, seperti pemain muda Prancis lain. Menez memang punya kemiripan dengan legenda sepakbola itu -- cepat, kemampuan tinggi, dan kreatif. Gelandang berusia 21 tahun ini dapat bermain di sayap kiri atau di tengah. Sejak didatangkan dari Monaco musim lalu, masa depan Roma diletakkan di bahu Menez.

Vincenzo Fiorillo (Sampdoria)
Kiper -- 13 Januari 1990

Italia disebut-sebut mulai kekurangan kiper muda berkualitas. Tapi, kehadiran penjaga gawang belia tim Primavera Sampdoria ini menyeruak di pemberitaan. Fiorillo, 18 tahun, sudah disebut-sebut sebagai "Gianluigi Buffon yang baru", dan jika Anda menyimak permainannya, Anda akan mengerti kenapa. Gaya keduanya identik. Fiorillo, dengan tinggi 190 cm, tampil menjulang di gawang Sampdoria, tenang dan mampu memimpin lini pertahanan. Musim lalu, Fiorillo menyabet gelar liga dan piala Primavera bersama Samp. Sudah menjalani debut Serie A, Fiorillo segera menjadi andalan Sampdoria senior.

Savio Nsereko (Brescia)
Gelandang serang -- 27 Juli 1990

Setelah menelurkan bakat-bakat baru seperti Hamsik dan Santacroce, Brescia kembali memunculkan Nsereko. Pemain kelahiran Ghana berpaspor Jerman ini masih berusia 19 tahun, dan sudah dianggap sebagai bintang masa depan. Nsereko bisa bermain sebagai gelandang serang di sayap kiri, atau di depan, dan terkenal berkat kelincahan dan kecerdasannya. Serangkaian klub besar sudah mengincar Nsereko, seperti Juventus dan Napoli, dan sangat mungkin pindah Januari ini.

Alexis Sanchez (Udinese)
Pemain depan/sayap -- 16 Desember 1988

Seperti halnya Pato, Sanchez dijuluki "El Niño Maravilla" (Anak Ajaib) dan menjadi salah satu pemain muda berbakat hebat di Serie A Italia. Kecepatan, teknik, dan giringan bola adalah kelebihan Sanchez. Dapat bermain di posisi sayap atau gelandang serang ortodoks, pemain asal Cili ini sudah mengemas dua gol di Serie A musim ini, termasuk gol hebat ke gawang Catania. Sayangnya, penampilan Sanchez, seperti tim yang dibelanya, menurun belakangan ini.

Beberapa pemain muda lain yang layak disimak:
Edison Cavani (Palermo), Zdravko Kuzmanovic (Fiorentina), Sokratis Papastathopoulos (Genoa), Stefan Radu (Lazio), Viktor Obinna (Inter), Simon Kjaer (Palermo), Mobido Diakite (Lazio), Alberto Paloschi (AC Parma/Milan), Domenico Criscito (Genoa/Juventus), Stefano Chuka Okaka (Roma), Eder(Frosinone), Lorenzo De Silvestri (Lazio), Fausto Rossi (Juventus).

Siapa pemain muda yang terbaik menurut Anda? Sampaikan pendapat Anda dalam formulir di bawah ini!

Malouda Ditukar Dengan Cicinho?


Daily Mirror melaporkan kalau Chelsea tengah mempertimbangkan pertukaran pemain mereka Florent Malouda dengan Cicinho (foto) dari AS Roma.

Scolari menginginkan timnya dapat bermain lebih baik dengan memanfaatkan lebarnya lapangan. Cicinho yang dapat bermain sebagai bek kanan atau winger kanan itu dirasakan lebih cocok dibandingkan Malouda.

Sejak bergabung di Stamford Bridge, Malouda tidak tampil dengan konsisten dan posisinya lebih sering diisi oleh Joe Cole atau Salomon Kalou.

Cicinho sendiri yang didapatkan Giallorossi dari Real Madrid telah menyatakan tidak ingin meninggalkan Roma walau klubnya dikabarkan ingin menggantikannya dengan Miguel dari Valencia.

Namun bila ia akhirnya keluar, maka The Blues akan mendapatkan saingan dari Bayern Muenchen dan juga beberapa klub papan atas Brasil.

Laporan dari Daily Mail menginformasikan kalau pertukaran antara Malouda dan Cicinho itu dapat bernilai sebesar £5 juta.